mozaik waktu

Desember 9, 2009

Merancang Kebijakan Pertanian 2025: Pertanian Perdesaan Berdaya Saing untuk Kemandirian Bangsa

Filed under: Uncategorized — Aria @ 4:41 pm
Tags:

Oleh : F. Ariariawiyana (Dept. TIN/Fateta 2006)

Pembangunan nasional selama lebih kurang tiga puluh tahun terakhir ini telah menjadikan ekonomi, khususnya pertumbuhan, sebagai pilar utama pembangunan (yudhoyono, 2003). Namun arah kebijakan pembangunan nasional saat ini bersifat bias ke arah perkotaan, ke industri manufaktur, dan bersifat konglomeratif. sehingga persoalan pembangunan telah melahirkan persoalan mengorbankan sector pedesaan, sector pertanian, dan ekonomi masyarakat umum. Ukuran yang nyata adalah lahirnya kemiskinan dan dan pengangguran structural pertanian dan perdesaan.
Ditinjau dari struktur perekonomian nasional, sector pertanian menempati posisi yang penting dalam kontribusinya terhadap PDB riil di tahun 2003 setelah sector industry . Argumen utama untuk revitalisasi bagi sektor pertanian adalah besarnya sumbangan GDP dan devisa dalam pembangunan nasional, namun yang lebih penting dalam penyerapan tenaga kerja, penyediaan kebutuhan pokok pangan penduduk dan tentunya jalur utama mengatasi kemiskinan di pedesaan dimana sebagian besar penduduk Indonesia berada. Revitalisasi pertanian mengandung pengertian bahwa sektor pertanian pernah sangat vital namun kini kurang berdaya dan kurang mendapatkan prioritas sebagaimana mestinya sehingga sumbangannya kurang optimal dan jauh dari yang diharapkan.
Penyebab tidak sustainnya kemampuan sektor pertanian menopang pembangunan nasional di Indonesia antara lain adalah kurang seimbangnya pengembangan subsistem agribisnis (hulu, tengah dan hilir) atau timpangnya pengembangan on farm dan off farm, disamping model perencanaan pembangunan yang terlalu sentralistik dan problem struktural lainnya yang belum terpecahkan dimasa lalu.
Merancang kebijakan pembangunan, termasuk pertanian pada rentang 20-25 tahun mendatang bukan hal baru di beberapa Negara dunia. Setidaknya terdapat tiga titik kritis pada tahun 2025 yang harus di lewati bangsa ini, yakni (1) lemahnya daya saing system usaha pertanian (2) ketidak adilan pelayanan pemerintah terhadap pelaku usaha pertanian (3) tidak dipikirkannya secara sistemik keberlangsungan system usaha pertanian .
Sasaran jangka panjang pembangunan dalam Emil Salim (2005) memuat (1) memberantas kemiskinan menuju Millennium Development Goals melalui pengembangan lapangan kerja produktif dan (2) pengembangkan kualitas Sumber daya Indonesia abad ke-21.
Dalam perekonomian Indonesia, salah satu sector ekonomi yang berbasis sumberdaya domestic (sumber daya alam, tenagakerja rakyat, keahlian/keterampilan rakyat, dan teknologi) dan di kuasai oleh sebagian besar rakyat adalah sector pertanian. Oleh karena itu, cara yang paling efektif dan efisien untuk membangun sumberdaya alam—khususnya pertanian—sambil menyerap tenaga kerja di kawasan perdesaan adalah pembangunan sector pertanian. Mubyarto dan Santosa (2003) menerangkan bahwa pembangunan pertanian haruslah merupakan bagian dari pembangunan pedesaan (rural development), yang menekankan pada upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan.
Berangkat dari pemikiran tersebut maka pertanian perdesaan merupakan hal yang harus di berdayakan untuk berkembang sebagai basis dalam membangkitkan perekonomian bangsa. Maka kata kunci adalah dihasilkannya produk hasil pertanian yang berdaya saing baik di pasar global maupun domestik. Seperti di kemukakan di atas titik kritis pada 2025 salah satunya adalah lemahnya daya saing system usaha pertanian yang berpangkal pada usaha tani. Maka tanpa adanya usahatani yang kuat dan efisien tidak akan bisa di bangun system usaha pertanian atau peningkatan nilai tambah yang kuat.
Alih teknologi pertanian sebagai salah satu perhatian dalam upaya untuk mengangkat usaha tani. Mulai dari input (bibit, pupuk, dan obat-obatan pertanian), teknologi pengolahan (teknik mesin pengolahan yang bermutu) dan teknologi distribusi (pengemasan dan pengangkutan). Dalam percepatan transformasi usahatani, adopsi teknologi pertanian di pandang sebagai factor penggerak yang arahnya untuk menghasilkan produk pertanian berdaya saing tinggi.
Kompetensi SDM merupakan komponen lain dalam sosio-budaya perekonomian perdesaan, terutama dalam kegiatan pertanian. Sampai saat ini SDM perdesaan masih belum mendapatkan tempat untuk di jadikan contoh dalam SDM yang siap “tempur” bagi usaha tani. Hal ini juga di dukung dengan system kepemimpinan perdesaan untuk mampu membangkitkan gairah SDM menuju kompetansi unggul pertanian perdesaan mencakup:keterampilan individu, kematangan emosional, kemampuan kerjasama, apreasiasi masyarakat terhadap penggunaan ilmu pengetahuan teknologi, dan responsive terhadap kepemimpinan futuristik.
Poensioen (1969) menyebutkan bahwa aspek kepemimpinan sangat menetukan kemajuan masyarakat (leadership as a prime). Sehingga untuk membangkitkan system usaha pertanian unggul dan berdaya saing di tentukan oleh sosok kepemimpinan yang dapat mendorong terjadinya kemajuan kelembagaan pertanian. Salah aspek dari kepemimpinan tersebut adalah visi ke dapan yang jelas terjahap arah kebijakan untuk mengangkat daya saing perdesaan. Transformasi yang ada dalam semangat pemimpin yang inspiratif, mampu memecahkan masalah, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan menjunjung tinggi system kerja kolektif masyarakat.
Perancangan transformasi perdesaan 2025 perlu dilakukan dengan pendekatan kegiatan perdesaan, haruslah mengutamkan atau berbasis pengelolaan sumberdaya setempat, produk dengan peningkatan nilai tambah maksimal, dan pengendalian finansial tidak berpusat pada satu pelaku ekonomi saja. Dengan demikian factor kepemimpinan masa depan dibangun atas pola pikir pertanian yang berorientasi budaya unggul dan semangat persaingan yang sehat. Dengan komponen dapat dilakukan transformasi pertanian perdesaan yang berdaya saing guna menunjang visi 2025.

November 4, 2009

renungan bagi fesbukiyah

Filed under: Uncategorized — Aria @ 10:55 am

Penyusun: Abu Muhammad Al-Ashri

Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

.

Akhi…

Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. ‘Kan kita jumpai pula indahnya penjagaan diri mereka dari aib dan maksiat. Merekalah orang-orang yang paling bersegera menjauhi maksiat. Bahkan, sangat menjauh dari sarana dan sebab-sebab yang mendorong kepada perbuatan maksiat.

Bila kita membaca kehidupan anak-anak atau para remaja di masa salaf, niscaya kita dapati mereka adalah darah-darah muda yang tampak kecintaannya terhadap din, semangatnya dalam membela al-haq, dan sikap bencinya kepada perbuatan dosa. Maka, kita dapati mereka di usia muda, sudah memiliki hafalan Al-Qur’an, semangat yang besar untuk berjihad, dan kecerdasan yang menakjubkan.

Sebaliknya, sungguh sangat sedih hati ini. Tidakkah kita merasakan bahwa kaum muslimin saat ini terpuruk, terhina dan tidak berdaya di hadapan orang-orang kafir, padahal jumlah kita banyak? Lihatlah diri kita! Bandingkan diri kita dengan para pemuda di masa salaf! Akhi… saya, antum, kita semua pernah bermasiat. Namun, sampai kapan kita bermaksiat kepada-Nya?

.

Saya tidak mengharamkan antum berdakwah kepada wanita, karena Nabi pun berdakwah kepada wanita!

Saya pun tidak mengharamkan muslim atau muslimah memanfaatkan facebook, karena untuk mengharamkan sesuatu membutuhkan dalil.

Siapa yang melarangmu mendakwahi mereka akhi…?

Bahkan, dulu kumasih berprasangka baik padamu bahwa kau ‘kan dakwahi teman-teman lamamu, termasuk para wanita itu…

Namun, yang terjadi adalah sebagaimana yang kau tahu sendiri…

Tak perlu kutulis…

Karena kau pasti tahu sendiri…

.

Catat! Tak kubuka friendlist FB-mu karena aku tak mencari-cari aibmu…

Namun, tidakkah kau sadar bahwa FB itu sangat-sangat terbuka?

Hingga dirimu sendiri yang tak sadari…

Bahwa tingkah lakumu pada para akhwat itu,

Dapat dilihat kawan-kawanmu yang lain, termasuk diriku…

Yang inilah sebab yang mendorongku menorehkan pena dalam lembaran-lembaran ini…

Duh….

Betapa sering Allah menutupi aib seorang hamba…

Namun dirinyalah sendiri yang membongkar aibnya…

.

Ya Allah…

Kuadukan kesedihan hatiku ini hanya kepadaMu…

Hanya kepadaMulah kuserahkan hatiku…

Mudah-mudahan Kau mendengar doaku…

Dan Kau maafkan kesalahan kawan-kawanku itu…

Di samping ku terus berhadap agar Kau pun maafkan diriku…

.

Akhi…

Pernahkah kau baca firman Allah yang menyinggung “mata yang berkhianat”?

Baiklah, kita periksa kembali. Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin: 19

يعلم خاينة الأعين

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat”

Nah, apakah yang dimaksud dengan mata yang berkhianat itu? Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu turun di masa para shahabat. Shahabat Nabilah yang paling mengerti makna Al-Qur’an karena mereka hidup bersama Nabi, langsung mendapat bimbingan dan pengarahan Nabi. Maka, kini kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas, sebagai hadiahku untukmu.

Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas? Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari kalangan shahabat Nabi. Kudapatkan tafsir ini dari Abul Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam kitab beliau,ذم الهوى. Ibnu Abbas berkata

الرجل يكون في القوم فتمر بهم المرأة فيريهم أنه يغض بصره عنها فإن رأى منهم غفلة نظر إليها فإن خاف أن يفطنوا إليه غض بصره وقد اطلع الله عز وجل من قلبه أنه يود أنه نظر إلى عورتها

“Seseorang berada di tengah banyak orang lalu seorang wanita melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa IA MENAHAN PANDANGANNYA DARI WANITA TERSEBUT. Jika ia melihat mereka lengah, ia pandangi wanita tersebut. Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah ‘azza wa jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat wanita tersebut .”

.

Camkan itu akhi…!

Kita sudah lama mengenal Islam…

Kita sudah lama ngaji…

Apakah seseorang yang sudah lama ngaji pantas seperti itu?

Inginkah akhi dikenal manusia sebagai pemuda yang shalih…

Yang senantisa menundukkan pandangan di alam nyata…

Namun kau berkhianat dengan matamu…

Kau tipu kawan-kawanmu yang berprasangka baik kepadamu…

Tidakkah ‘kau malu kepada Allah…

Yang melihatmu di kala tiada orang lain di sisimu selain laptopmu, komputer, atau HP-mu?

Yang dengan laptopmu kau bisa pandangi wanita sesuka hatimu…?

Yang komputermu kau bisa sapai mereka sepuasmu..?

Yang HP-mu kau bisa berbincang-bincang dengan mereka sekehendakmu…?

.

Akhi…

Janganlah ‘kau marah padaku…

Marahlah pada Ibnu Abbas jika kau mau…

Karena dialah yang menjelaskan arti mata khianat kepadaku…

.

Akhi…

Jika kau malu bermaksiat di hadapan kawan-kawanmu, apalagi di hadapan para wanita itu…

Ketahuilah bahwa

قلة حيائك ممن على اليمين وعلى الشمال وأنت على الذنب أعظم من الذنب

“Sedikitnya rasa malumu terhadap siapa yang berada di sebelah kanan dan sebelah kirimu, saat kamu melakukan dosa, itu lebih besar daripada dosa itu sendiri!”

Eits… sebentar akhi, jangan marah dulu. Itu di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas! Silakan lihat di ذم الهوى halaman 181.

.

Akhi…

Apakah engkau masih sempat-sempanya tertawa, melempar senyum pada akhwat itu, meski sebatas:

simbol ^__^

atau kata-kata: xii…xiii..xii..,

atau: hiks..hiks…hiks…,

atau: hiii..hi..hi. .,

atau: ha..ha..ha…,

atau: so sweet ukhti…,

atau sejenisnya yang kau tulis di wall-wall atau ruang komentar Facebook para akhwat itu!

Maka, Ketahuilah bahwa

وضحكك وأنت لا تدري ما الله صانع بك أعظم من الذنب

“Tertawa saat kamu tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI!”

dan juga

وفرحك بالذنب إذا ظفرت به أعظم من الذنب

“Kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu melakukannya, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI”

Afwan akhi jika antum mulai emosi (semoga tidak). Jangan lihat saya karena dua kalimat di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas pula, afwan.

.

Akhi…

Kalau antum masih bermudah-mudahan dalam berfacebook ria dengan para wanita itu,

Ketahuilah bahwa antum adalah pengecut!

Karena kalau kau berani, kau kan temui ayahnya dan kau pinang dirinya…

Kalaupun hartamu tidak mendorongmu untuk itu…

Kau tetap pengecut karena kau hanya “tunjukkan perhatian”…

Sementara kau tidak berani “maju melangkah”…

Jika kau mampu tahan pandanganmu dari “bunga-bunga” facebook itu, barulah kau ini seorang pemberani!

Sabar dulu akhi, jangan marah dulu. Siapa saya? Saya ini masih sama-sama belajar seperti antum, atau malah saya masih tergolong anak “baru ngaji”. Namun, mohon jikalau akhi menolak ucapan saya, perhatikanlah untaian kata yang dikutip Ibnul Jauzi di bawah ini..

ليس الشجاع الذي يحمي مطيته … يوم النزال ونار الحرب تشتعل

لكن فتى غض طرفا أو ثنى بصرا … عن الحرام فذاك الفارس البطل

Pemberani bukanlah orang yang melindungi tunggangannya

Pada saat peperangan, ketika api berkobar

Akan tetapi, pemuda yang menahan padangannya dari yang diharamkan…

Itulah prajurit yang ksatria!

Akhi…

Sekali lagi, kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Mohon janganlah kau lihat siapa saya, kawanmu ini. Saya tidak ada apa-apanya. Namun, sekali lagi, kumohon lihatlah siapa orang yang perkataannya kuhadirkan padamu. Salaf memberi nasehat kepada kita dengan untaian katanya di bawah ini:

فتفهم يا أخي ما أوصيك به إنما بصرك نعمة من الله عليك فلا تعصه بنعمه وعامله بغضه عن الحرام تربح واحذر أن تكون العقوبة سلب تلك النعمة وكل زمن الجهاد في الغض لخطة فإن فعلت نلت الخير الجزيل وسلمت من الشر الطويل

“Pahamilah wahai saudaraku apa yang aku pesankan kepadamu…

Penglihatanmu tidak lain adalah nikmat dari Allah atasmu…

Janganlah mendurhakai- Nya dengan menggunakan nikmat-Nya….

Perlakukanlah penglihatan tersebut dengan menahannya dari yang haram,

Maka kamu beruntung.

Jangan sampai engkau mendapat sangsi berupa hilangnya kenikmatan itu.

Waktu berjihad untuk menahan pandangan adalah sejenak.

Jika kau melakukannya, kau ‘kan dapatkan kebaikan yang banyak,

dan selamat dari keburukan yang panjang.”

[lihat ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 143 ]

Akhi…

Sekali lagi, demi Allah, saya tidak melarangmu untuk berdakwah, termasuk dakwah kepada wanita. Sudah kuterangkan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita.

Namun, wahai akhi…

Antum memiliki kewajiban yang besar sebelum antum berdakwah, yaitu ilmu! Sudahkah kita berdakwah dengan ilmu? Akhi ini kutujukan pula untuk diriku: Manakah waktu yang lebih banyak kita habiskan? Mendakwahi wanita itu, atau waktu kita dalam mengikuti majelis ilmu? Silakan kita jawab sendiri.

.

Akhi…

Laki-laki memang tidak dilarang bahkan bisa diwajibkan mendakwahi wanita, sebagaimana yang Nabi dan para shahabat lakukan…

Namun, mendakwahi mereka tidak harus lewat facebook kan? Antum bisa membuat blog/webiste yang dari situ antum bisa menulis risalah. Antum bahkan bisa berbicara di alam nyata jika diperlukan, selama tidak ada khalwat. Namun, tidakkah kita ingat bahwa para shahabat menimba ilmu dari istri Nabi tidak berhadapan langsung, tetapi di balik tabir?

Jika ingin berdakwah, antum bisa menukilkan artikel bermanfaat, lalau kau cantumkan di facebookmu.. Antum juga bisa membuat page, atau grup yang dengannya kau bisa kirimkan artikel kepada kaum muslimin atau muslimah sehingga bisa membaca nasehatmu. Itu saja! Lalu kau log-out dari FB. Selesai kan? TANPA KITA HARUS MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan berbincang-bincang dengannya.

Akhi… di saat antum akan mendakwahi wanita, di saat itu pula antum harus menjaga diri antum untuk jauh.. menjauh sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!

Tidak ingatkah akhi bahwa para shahabat ketika ingin menimba ilmu kepada para istri nabi, mereka lakukan di balik tabir? Di balik tabir akhi…! Bukan melihat wajah-wajah wanita yang kau add di facebookmu itu!

.

Akhi…

Jangan kau anggap ini kaku. Kalau akhi tidak percaya. Silakan periksa sendiri. Demi Allah, silakan periksa sendiri para akhwat teman-teman lama antum ketika di SLTP / SMU dulu, termasuk di kampusmu yang kau add di FB-mu.

Berapa di antara mereka yang menerima nasehatmu dalam praktik yang nyata?

Hingga para akhwat tersebut memakai hijabnya…

Menutupi wajahnya dari pandanganmu…

Meninggalkan maksiat-maksiat karena menrima nasehatmu..

Atau akhwat-akhwat itu hanya katakan,

“Subhanallah akhi…,

bagus sekali nasehatnya….,

izin share ya….

Saya di-tag dong…

Kok ana tidak di-tag akhi…?

Makasih ya bang telah di-tag…

Jangan bosan-bosan nasehatin ana…”

Bah! Jangan terburu-buru kau biarkan hatimu berbunga-bunga dengan kata-kata di atas akhi, karena

و خلق الإنسان ضعيفا

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah”

(Q.S. An-Nisa’: 28)

maka ingatlah bahwa jika akhwat itu bisa berkata-kata lembut kepadamu, padahal dia bukan istrimu, tentu dia pun akan bersikap demikian pada laki-laki lain, selain dirimu!

أفق يا فؤادي من غرامك واستمع … مقالة محزون عليك شفيق

علقت فتاة قلبها متعلق … بغيرك فاستوثقت غير وثيق

Sadarlah wahai hati dari kasmaranmu, dan dengarkan!

Ucapan kesedihan dan kasihan kepadamu…

Kamu terpikat dengan gadis yang hatinya terpikat dengan selainmu!

.

Akhi….

Sebelum kau terpukau dengan gaya bahasa para akhwat itu, ingatlah bahwa Nabi memberikan peringatan kepada kita

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita”

[ H.R Bukhari dan Muslim ]

.

Akhi…

Apakah kau tidak merasakan kesedihan sebagaimana yang kurasakan? Akhi… Bagaimana mata ini tidak mengalir di saat kita baca pesan istri Nabi, Aisyah, berkata,

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaum wanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah”

[lihat beserta sanadnya di ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 154][1]

Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna…

.

Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu ‘anha) mengatakan demikian? Kapan…? Kapan…? Lebih dari seribu tahun yang lalu, akhi, di saat Islam masih di puncak kejayaannya, di saat para shahabat yang menerima langsung pengajaran nabi masih hidup.

.

Duhai Ibunda, Aisyah….

Kau katakan demikian…

di kala Nabi belum lama wafat meninggalkan dirimu…

di kala para shahabat terbaik masih hidup di antaramu..

Kau katakan demikian…

di kala para wanita masih tutupi dirinya dengan hijab kemuliaan

Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan kau katakan…

Jika kau hidup di masa kami…

Di saat kami tenggelam dalam kotornya dunia…

Di saat manusia menghiasi dirinya dengan tipisnya rasa malu…

Di saat kaum wanita ceburkan dirinya dalam alam tabu…

.

Maka, demikian pula Engkau wahai saudariku muslimah! Jikalau tulisan ini sampai kepadamu, mengapa tidak kau katakan kepada kami, para laki-laki, suatu ucapan yang kami justru bangga mendengarnya jika kau ucapkan:

إليك عني! إليك عني! … فلست منك و لست مني

Menjauhlah kau dariku…! Menjauhlah kau dariku…!

Karna aku bukan milikmu…

Dan kau pun bukan bagian dari ku…

Ya ukhti…

Mengapa mau add, atau kau terima permintaan pertemanan facebook dengan para laki-laki, sementara ia bukan milikmu?

Belumkah kau ketahui tahu bahwa

إن الرجال الناظرين إلى النساء

مثل السباع تطوف باللحمان

إن لم تصن تلك اللحوم أسودها

أكلت بلا عوض و لا أثمان

Laki-laki ketika melihat wanita…

Seperti bintang buas ketika melihat daging…

Jika daging-daging itu tidak disimpan dengan rapi…

Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi apapun dan tanpa harga…

.

Ya ukhti…

Belumkah sampai kepadamu pesan Nabi kita?

يا معشر النساء تصدقن وأكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.

(H.R. Muslim: 132)

Wahai ukhti…

Tidakkah kau ingat bahwa kau pun diperintah untuk menahan pandanganmu?

وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka! Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka!”

(Q.S. An-Nuur: 31)

—bersambung—

Ahad, 14/11/1430 – 1 November 2009

Ba’da shuhuh yang cerah di Masjid Al-‘Ashri,

Menjelang dimulainya kajian kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad

.

CATATAN KAKI:
[1] Terdapat riwayat dari Aisyah yang mirip dengan atsar di atas, yaitu dalam shahih Muslim (cetakan دار إحياء التراث العربي – بيروت Juz I, hal. 445, hadits nomor 144):

عن عمرة بنت عبدالرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول

: لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعن المسجد ؟ قالت نعم

lihat pula lafadz ini dalam :

1. Musnad Ahmad bin Hambal (cetakan مؤسسة قرطبة – القاهرة ) Juz VI, hal. 193, hadits nomor 25.651
2. Musnad Ishaq bin Rahwiyah (cetakan مكتبة الإيمان – المدينة المنورة), Juz II, hal. 148, hadits nomor 639; dan Juz II, hal. 426, hadits nomor 897.

Oktober 29, 2009

DALIL SUNNAH TENTANG CINTA ALLAH

Filed under: Uncategorized — Aria @ 1:36 am

 

  1. Dari Abu Darda’; ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Ada tiga orang di mana Allah mencintainya, tersenyum padanya, dan merasa senang dengannya. Pertama, orang yang berperang demi Allah dalam satu pasukan. Kadang ia terbunuh, kadang pula dianugerahi kememnagan dan kecukupan oleh Allah, seraya Ia berfirman: ‘Lihatlah hamba-Ku ini, bagaimana ia bersabar karena Aku?’ Kedua, orang-orang yang punya isteri cantik dengan kasur empuk, namun ia melakukan qiyamullail. Allah berfirman tentangnya: ‘Ia meninggalkan syahwatnya dan mengingat Aku. Padahal kalau mau ia bisa saja tidur.Ketiga, orang yang berpergian bersama rombongan. Kemudian orang-orang dalam rombongan itu terjaga dalam rombongan itu terjaga malam, lantas diserang kantuk dan tertidur, tetapi ia bangun di waktu sahur, dalam susah dan senang.
  2. b. Dari amir bin Sa’ad; ia bertutur: Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Di atas ontanya, datanglah anaknya, Umar. Ketika melihatnya, Sa’ad berkata, “Saya berlindung kepada Allah dari keburukan pengendara ini,” seraya turun dari kendaraannya. Umar berkata padanya: “Apakah kamu (baca: ayah) berpergian dengan unta dan kambing serta meninggalkan manusia dan saling berbantahan tentang kekuasaan di antara mereka?” Kemudian Sa’ad memukul dadanya dan berkata, “Diam! Saya telah mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa lagi kaya dan menyembunyikan diri.

 

Takwa dalam hadits ini berarti melaksanakan apa yang diwajibkan Allah dan menjauhi apa yang diharamkan-Nya.

 

Kaya berarti kaya diri, jiwa dan hati. Inilah kaya yang dicintai Allah SWT, seperti sabda Rasulullah saw: “…Namun kekayaan yang sebenarnya adalah kaya jiwa.”

 

Al-Qadhi (Iyadh) berpendapat, maksud kaya di sini adalah kaya harta.

 

Adapun makna menyembunyikan diri adalah melakukan ibadah yang hanya diketahui Allah, sibuk dengan urusannya tanpa diketahui orang lain.

 

Al-hafizh ra. Mengatakan:

 

“Orang yang memiliki sifat kaya diri (jiwa) akan selalu merasa cukup atas rezeki Allah. Tak menuntut tambahan dan tidak tamak melebihi kebutuhannya. Dia tidak nyirnyir meminta tambahan rezeki kepada Allah, tetapi ridha dengan segala ketentuan dan pembagian-Nya. Seakan-akan dia selalu berkecukupan.

 

Sebaliknya, orang yang kafir jiwanya, pasti berbeda dengan orang yang kaya jiwanya. Ia tidak merasa cukup atas pemberian Allah, bahkan berusaha mendapatkan kelebihan dari kebutuhan. Dan jika tidak tercapai, dia merasa sangat sedih dan terbebani, seakan-akan orang yang miskin harta, karena ia tidak pernah merasa cukup dengan pemberian-Nya.

 

Sedang kekayaan jiwa tumbuh dari perasaan ridha atas ketentuan Allah dan menerima perintah-Nya. Karena dia tahu apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal, dia selalu menjaga diri dari ketamakan dalam meminta.

 

Betapa indah ungkapan yang menyatakan:

 

kaya jiwa itu adalah merasa cukup sebatas kebutuhan

lebih dari itu bukanlah sebuah kekayaan

namun kekafiran

 

  1. c. Dari Abu Hurairah ra.; ia berkata: rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya allah Azza wa Jalla, jika memberi suatu nikmat pada hamba, maka Ia sangat senang manakala melihat bekas nikmat itu kepada dirinya. Dan Allah membenci sikap menghinakan diri dan pura-pura menghinakan diri. Allah juga membenci peminta yang tamak dan mencintai orang yang pemalu dan menjaga kehormatan diri.”

 

  1. d. Dari Abu Idris al-Khaulani rahimahullah, ia berkata: “Aku masuk masjid Damaskus. Di dalamnya ternyata ada seorang pemuda yang berseri-seri wajahnya dan disekeliling banyak orang. Apabila berselisih pendapat tentang sesuatu, mereka menyadarkannya pada orang itu dan merujuk ucapannya. Kemudian aku bertanya tentang pemuda tersebut? lalu dijawab: ‘Itu adalah Mu’adz bin Jabal.’ Keesokan harinya aku datang ke masjid lebih awal, tetapi ia kudapati telah lebih dulu dari Aku dan kutemui ia sedang shalat. Kemudian aku menunggunya hingga ia selesai shalat. Setelah itu aku mendatanginya dari arah depannya, lalu kuucapkan salam, seraya kukatakan padanya: “Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Ia bertanya: “Sungguh karena Allah?” Jawabku: “Ya, karena Allah.” Ia bertanya lagi; “Sungguh karena Allah?” Jawabku lagi: “Ya, karena Allah.” Kemudian ia menarik selendangku dan mendekatkan diriku kepada dirinya, seraya berkata: “Bergembiralah, karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman; Pasti  kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling bercinta karena Aku, orang-orang yang duduk-duduk karena Aku, orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, dan orang-orang yang saling berderma karena Aku.”
  2. e. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw.: “Ada seorang laki-laki pergi menziarahi saudaranya di kampung lain. Maka datang padanya seorang malaikat utusan Allah untuk menanyakan maksudnya seraya berkata: ‘Ke mana tujuanmu?’ Dia menjawab: ‘Saya mau menemui saudara saya di kampung anu.’ Malaikat itu balik bertanya, ‘Apakah karena suatu keuntungan yang kamu harapkan darinya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, tapi saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah utusan Allah kepada Anda untuk memberitahu, bahwa Allah mencintai Anda sebagaimana Anda mencintai saudara Anda.”

 

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

 

“Hadits ini menerangkan keutamaan cinta karena Allah dan bahwa cinta ini menjadi sebab Allah mencintai hamba. Juga menjelaskan perihal keutamaan menziarahi orang shalih, sahabat, dan saudara. Selain memberitakan bahwa manusia pun kadang ada yang bisa melihat malaikat.”

 

  1. f. Dari Abu darda’ ra.; ia berkata: “Tidaklah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, tanpa sepengetahuan keduanya, kecuali Allah lebih mencintai orang yang lebih mencintai saudaranya di antara keduanya.”

  1. A’isyah ra. Meriwayatkan bahwa Nabi mengutus seorang laki-laki kepada sebuah pasukan perang. Saat mengimani shalat ini membaca ayat “Qul Huwallahu Ahad” pada rakaat terakhir. Saat pulang perang, mereka menceritakan kepada Nabi. Beliau menyuruh mereka menanyakan hal itu, kenapa dia berbuat demikian? Saat itu ia menjawab, “Pada ayat itu terkandung sifat ar-Rahman dan saya sangat senang membacanya.” Mendengar hal itu Rasulullah saw. bersabda: “Beritahukan padanya bahwa Allah mencintainya.”

 

  1. Dari Umar ra. Dituturkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Rasulullah, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Siapakah manusia yang paling dicintaiNya?” Rasulullah saw. menjawab, “Manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain, dan amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati saudara sesama muslim, menjauhkannya dari kesusahan, menolongnya membayar utang, atau mejauhkannya dari rasa lapar. Saya lebih suka berjalan dengan saudara sesama muslim daripada I’tikaf sebulan di masjid. Siapa yang menahan dirinya dari amarah, Allah akan menutupi kejelekannya. Siapa yang menahan kemarahan, padahal jika mau dia bisa melakukannya, maka allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari Kiamat. Siapa yang berjalan dengan saudaranya sesama muslim untuk memenuhi kebutuhannya hingga bisa meneguhkannya, maka Allah akan menguatkan kakinya pada hari Kiamat, saat kaki-kaki makhluk dilemahkan dan dirobohkan-Nya. Ketahuilah, bahwa akhlak yang buruk bisa merusak dan membuat amal sia-sia, seperti cuka bisa merusak madu.”

 

 

Oktober 28, 2009

7 value’s fundamental: Building New Image of IPB BHMN

Filed under: Uncategorized — Aria @ 6:39 am
  1. 1. Keunggulan Akademik

 

Keunggulan Akademik mengandung arti adanya kesadaran dan tuntutan yang tinggi terhadap prinsip-prinsip pengembangan budaya akademik sebagai berikut:

  1. i.        Memegang teguh dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kejujuran, obyektifitas, taat azas, dan bebas kepentingan dalam cara berpikir dan pengambilan keputusan untuk memperoleh kebenaran ilmiah.
  2. ii.        Menjunjung tinggi nilai-nilai universal kemanusiaan, pemeliharaan keserasian dan keberlanjutan kehidupan di muka bumi.
  3. iii.        Pemihakan terhadap kepentingan bangsa, kepentingan masyarakat banyak dan petani kecil dalam menetapkan prioritas program pengembangan akademik dan diseminasi hasil-hasilnya.
  4. iv.        Senantiasa berorientasi ke arah masa depan yang lebih maju, inovatif dan lebih berkeadilan.
  5. v.        Berorientasi pada peningkatan kemampuan diri dan kemampuan orang lain atau masyarakat untuk menjadi mandiri.

 

2. Spiritualisme

 

Spiritual yang berarti spirit (roh) atau bernafas, energi kehidupan yang membuat individu tetap hidup, bernafas dan bergerak.

Pengertian spiritualisme adalah kemampuan untuk dapat mengenal dan memahami diri kita sepenuhnya, sebagai makhluk bagian dari alam semesta.

Individu yang memiliki spiritualisme tinggi adalah individu yang beriman dan berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, memiliki keheningan dan ketenangan, senantiasa melakukan pembersihan diri, dan selalu beramal dan mengucap syukur  serta berserah diri secara total.

Dengan dimilikinya spiritualisme yang tinggi diharapkan semua orang menyadari bahwa semua orang sama haknya untuk menikmati ciptaan Tuhan, menghargai ciptaan Tuhan, dapat memberi yang terbaik dan melayani orang lain sebagai wujud syukur atas apa yang telah diterimanya dari Tuhan. Nilai ini penting untuk ditanamkan di IPB yang sedang melakukan banyak strategi dan langkah untuk mencapai visinya.

 

 

3. Gigih

 

 

 

Kegigihan merupakan kemampuan untuk tetap pada satu posisi atau rencana tindakan sampai tujuan yang diharapkan tercapai atau mungkin tidak dapat dicapai lagi.

Gigih dapat diartikan bekerja untuk mencapai tujuan walaupun banyak hambatan dan kesulitan, namun secara aktif bekerja untuk mengatasi rintangan dengan mengubah strategi, melakukan usaha-usaha ekstra, menggunakan berbagai pendekatan. Individu yang gigih biasanya menyesuaikan fokus ketika suatu tujuan kelihatannya sudah tidak dapat dicapai lagi, bila perlu mengerahkan kembali tenaga kepada tujuan-tujuan yang masih dapat dicapai.

4. Senang Bekerjasama

 

Senang bekerjasama dapat diartikan bekerja secara bersama-sama dalam mewujudkan tujuan yang sama dengan berbagai pihak yang memiliki sudut pandang yang berbeda dengan keunggulan yang berbeda.

Kerjasama yang dimaksud akan maksimal hasilnya jika ada sinergi kerja tim untuk menyatukan kemampuan individu dan menggandakannya melalui kolaborasi yang tepat dengan cara saling menghargai antar individu atau pihak yang bekerjasama melalui tutur kata yang santun dan sikap yang sopan.

Sinergi hanya terjadi ketika setiap anggota tim memiliki kepedulian satu sama lain, setiap anggota tim harus tumbuh dan berkembang baik secara teknis, keterampilan, analitikal, emosional maupun spiritual.. Saat tim bekerjasama dengan saling memberikan kontribusi positif, maka kerjasama tersebut akan menyenangkan.  Nilai ini perlu ditanamkan di IPB  mengingat individu yang. berada di dalamnya memiliki keunggulan yang bervariasi dan memiliki peluang untuk menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa.

 

5. Empati/Peduli

 

Berempati merupakan kemampuan untuk mendengarkan dan memahami pikiran, perasaan atau masalah orang lain/kelompok lain yang tidak terucapkan atau tidak sepenuhnya disampaikan. IPB dan individu yang berada di dalamnya perlu memiliki empati yang menumbuhkan keberpihakan terutama terhadap masyarakat tani dan masyarakat luas yang kurang beruntung dan terpinggirkan, kepada lingkungan yang senantiasa perlu dilestarikan fungsinya.

Dalam berempati perlu dipahami isi pesan, ucapan, emosi dan isu-isu yang semakin kompleks sehubungan dengan pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

 

6. Tanggungjawab

 

Tanggungjawab adalah sikap mampu melaksanakan tugas dengan baik dan tidak melimpahkan kesalahan pada orang lain, atau menyalahkan situasi ketika menghadapi tantangan.

Berani mengambil alih tanggungjawab ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Nilai ini perlu segera diimplementasikan di IPB yang sudah banyak membuat tata aturan secara operasional di dalam bekerja di setiap unit kerja, namun pada kenyataannya masih banyak pihak yang belum bertanggungjawab dalam pelaksanaannya.

 

7. Komitmen

 

Komitmen merupakan kemampuan untuk menyelaraskan sikap dan perilaku dengan mengutamakan kepentingan organisasi dalam rangka mewujudkan visi dan misi organisasi. Secara aktif menyesuaikan diri terhadap norma-norma organisasi, setia, dan sadar untuk menolong rekan kerja dalam menyelesaikan tugas.

Komitmen di IPB sangat diperlukan guna mencapai visi IPB sebagai lembaga internasional dalam pengembangan IPTEKS dan sumberdaya manusia guna tetap komitmen dalam membangun pertanian tropika.

IPB yang profesional dan pionir di bidangnya adalah perguruan tinggi yang mempunyai keunggulan akademik dengan asa yang tak pernah padam di sanubari seluruh civitas akademika IPB.

Implementasinya memerlukan insan-insan IPB yang memiliki kualitas intrapersonal yang tinggi.

Insan IPB yang selalu mendasari kehidupannya dengan nilai-nilai spiritualisme, gigih, senang bekerja sama dan bertanggungjawab, serta senantiasa komitmen adalah sebuah harga yang tidak bisa ditawar lagi untuk mewujudkan kehidupan kampus yang menjunjung tinggi visi dan misinya.

Harga itu jugalah pengikat beragam perbedaan yang ada menjadi   kekuatan   pada   IPB  yang luar biasa besarnya.

Sebuah kekuatan yang akan semakin memantapkan kiprah IPB dalam mencerdaskan anak bangsa, dalam menemukan solusi beragam persoalan dan membantu masyarakat menemukan sumber kebahagiaannya.

Insan IPB adalah juga insan yang memiliki hubungan interpersonal dengan sesamanya dan dengan para stakeholdernya.

Karakter interpersonal yang bermakna dengan sesamanya dan dengan para stakeholdernya.

Karakter interpersonal insan IPB adalah insan yang selalu saling menghargai, bersinergi mengusung nilai kolaborasi dalam setiap gerak langkahnya sebagai wujud semangat empati.

Oktober 25, 2009

bersiap untuk jalankan strategi jitu (1)

Filed under: Uncategorized — Aria @ 9:33 pm

matanya masih mengantuk setengah kelelahan berlari. waktu sudah tak tergapai, alamat terlambat untuk hari ini. padahal ini baru yang pertama. sesekali nafas sengal menghembus, kakinya masih bergetar, rambut nya berantakan, pakaian putihnya menjadi sedikit lusuh karena beradu dengan debu jalan dan asap knalpot yang mengpul riang. inilah hariku, sergahnya, hari pertamaku masuk kuliah. setelah 2 bulan setengah aku menunggu.

aku datang kawan, menjadi yang terbaik, ucapnya dalam hati. tapi kakiny tergopoh, tersangkung kaki meja yang memang tidak salah berada di sana. matanya saja yang minus dua melihat lebih jauh. sergap kelas begitu asik bercerita perkenalan. aku akan duduk paling depan, tekadnya. tetapi gadis berjilbab biru di samping kirinya melambai perlahan.

“ukhti, mari duduk bersama ana. kebetulan kursi di sebelah ana masih kosong. oia, afwan, salam kenal ana friska. tapi panggil aja riska, biar lebih santai” gadis berjilbab biru itu melambai untuk berjabat tangan.

tapi ia masih saja kebingungan, belum bisa berkata apa, (bersambung)

Memahami Visi Indonesia 2030: Peluang dan Tantangan Bagi Lulusan Teknologi Pertanian

Filed under: Uncategorized — Aria @ 8:32 pm

Berbicara tentang peluang dan tantangan bagi lulusan sarjana teknologi pertanian adalah  berbicara tentang dua hal. Pertama, kemampuan individu dalam mengeksplorasi kompetensi diri sekaligus kecakapan dalam memahami bidang keahlian yang kini sedang di tekuninya. kemudian, kedua adalah bagaimana lingkungan di luar diri masing-masing individu berpengaruh. Dalam tulisan ini penulis akan banyak menyikapi tentang poin kedua.

Adalah  penting bagi mahasiswa yang kini sedang menekuni core competence Teknologi pertanian untuk mampu memahami realitas yang ada. Termasuk didalamnya kebijakan pemerintah dan pasar global terhadap kondisi politik-pertanian. Istilah ini,  penulis pakai dengan alasan pertanian tidak hanya urusan untuk memenuhi pangan atau kebutuhan pokok saja. Tetapi menjadi tolak ukur keberhasilan dalam melihat kinerja pembangunan suatu Negara.

Tidak dapat di pungkiri Karakteristik yang di miliki bangsa kita –yang mungkin bisa–sebagai upaya untuk menunjang visi pembangunan adalah sector industry-pertanian secara simultan dengan pengembangan sector jasa. Konsep pembangunan industry dengan visi pertumbuhan tinggi (high growth vision) dapat di rancang untuk memajukan Indonesia dengan laju pertumbuhan tertentu untuk jangka pendek dan panjang.

Visi indonesia 2030

Visi sebuah bangsa pada dasarnya di bentuk  oleh imajinasi dan usaha bangsa secara tidak kenal lelah dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini jelas, visi di perlukan sebagai pedoman untuk membangun dirinya menjadi menuju masyarakat yang lebih baik. Perumusan visi pertama negeri ini telah tercapai yakni mencapai kemerdekaan yang di citakan. Dengan demikian perlu di lakukan perumusan visi jilid kedunia dengan memperhatikan kekuatan, peluang, ancaman, dan posisi negeri Indonesia saat ini.

Kita sepatutnya bersyukur ke hadirat Illahi yang telah melimpahkan kekayaan luar biasa kepada bangsa Indonesia berupa daratan yang membentang dari sabang hingga merauke dengan luas mencapai 1.900 juta hectare dan terdiri atas 17.800 pulau, lebih dari 5.700 hektare merupakan hamparan biru dengan keanekaragaman hayati terbesar didunia. Selain hal tersebut sekitar 70% penduduk Indonesia bergerak dalam usaha pertanian. Kondisi ini menjadi alasan kuat untuk memacu industri berbasis pertanian (agroindustri). Selayaknya potensi tersebut menjadi modal dasar untuk di kembangkan  menjadi komoditas atau produk berdaya saing di perdagangan global.

Visi Indonesia 2030 dalam Hartoto Sastrosoenarto (2006) adalah upaya pencapaian sinergi dalam menunjang segitiga pembangunan yakni visi pertanian, jasa, dan indusrtri. Untuk mendukung visi tersebut perlu di  lakukan rumusan langkah-langkah strategis diantaranya : (1) mengembangkan kemampuan SDM (2) menguasai dan mengembangkan teknologi untuk menunjang tiga sector utama tersebut (3) mengembangkan sector pertanian dalam arti luas, mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, sector kehutanan, kelautan termasuk upaya swasembada pangan (4) melaksanakan industrialisasi yang berdaya saing kuat dan (5) pengembangan sector jasa dalam arti luas.

Langkah utama sebagai penunjang untuk meraih visi tersebut. Lebih lanjut hartoto menegaskan untuk menciptakan media tumbuh yang nayaman bagi perkembangan industry, yaitu iklim yang kondusif. Dalam jangka panjang adalah meminimalisasi kesenjangan baik antar wilayah maupun antar golongan masyarakat. Kebijakan energy turut pula mempengaruhi arah industrialisasi, baik cara mendapatknnya maupun menggunakannya, isu lingkungan menjadi hal penting terkait kebijakan tersebut. Pengembangan sub sector pertanian dan industri akan mendominasi.

Tulisan yang menarik dari Prof. Mudrajad Kuncoro (2006), guru besar FE-UGM. Masih dalam konteks visi Indonesia 2030. Terdapat sedikitnya Empat masalah dasar yang harus dipecahkan dalam jangka pendek dan menengah: (1) relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi pascakrisis (rata-rata hanya 4,5% per tahun), (2) masih tingginya pengangguran (9–10%), (3) tingginya tingkat kemiskinan (16–17%) di Indonesia, dan (4) rendahnya daya saing industri Indonesia

Kedua,Visi Indonesia 2030, yang merupakan sumbang pikir Yayasan Indonesia Forum, yang memimpikan Indonesia menjadi ”Negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan alam”.Visi Indonesia 2030 tersebut ditopang empat pencapaian utama, yaitu pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, mendorong Indonesia  masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita sebesar USD18.000/tahun, perwujudan kualitas hidup modern yang merata serta mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune 500 Companies. Ketiga, Visi KADIN, yang didukung riset sejumlah ekonom dan masukan berbagai asosiasi bisnis ini, memformulasikan visi 2030 Indonesia sebagai: ”Negara Industri Maju dan Bangsa Niaga Tangguh”.

Ketiga visi yang di paparkan di atas merupakan satu bagian dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, yang sesuai dengan visi pembangunan Nasional 2005-2025. Dalam visi itu  pun di sebutkan terdapat sedikitnya delapan misi pembangunan. Salah satu hal yang mendasar adalah konteks pembangunan sektor industry. Merujuk dalam visi tersebut kata kunci (keyword) yang di ambil adalah pembangunan sector pertanian dalam konteks industrialisasi adalah hal yang relevan, sebagai misi untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing global.

Pertanian berkebudayaan Industri

Pertanian berkebudayaan industri adalah suatu system terpadu industri biologis yang merupakan hasil karya, cipta, dan rasa manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya biologi beserta ekosistemnya; berorientasi pada efisiensi, produktivitas, kualitas serta nilai tambah secara berkelanjtuan dan berwawasan lingkungan; melalui penerapan iptek dan manajemen agribisnis secara terpadu dan dikerjakan oleh pelaku pertanian profesional yang memiliki azas kerja industri dan karakteristik social budaya bangsa ber-Pancasila; ditujukan bagi seluruh bangsa Indonesia yang berprinsip pada keadilan dan kesejahteraan.  Demikian salah satu prinsip dari paradigma pertanian baru untuk mengantisipasi era globalisasi dan perdagangan bebas.

Industry pertanian atau lebih lanjut agroindustri merupakan bagian dari core competence seorang lulusan Teknologi Pertanian. Agro industry sebagai penarik pembangunan di sector pertanian diharapkan mampu menciptakan pasar melalui berbagai produk olahannya. Peranan agroindustri itu sendiri bagi bangsa menurut Sumatupang (1990) untuk membenahi masalah pertanian antara lain: (1) menciptakan nilai tambah pertanian (2) menciptakan lapangan pekerjaan (3) meningkatkan penerimaan devisa (4) memperbaiki pendapatan, dan (5) menarik sector pertanian.

Namun kendala yang seringkali mengahantui pengusaha yang bergerak di bidang pertanian adalah sebagian besar teknologi pertanian yang ada belum mampu menunjang industry terutama yang berskala kecil. Selain dari karakteristik sebagian besar produk pertanian yang mudah rusak dan bulky, bersifat musiman—dipengaruhi iklim, serta masih rendahnya mutu produk pertanian industry yang masih rendah dalam persaingan pasar di dalam maupun luar negeri.

Peluang dan tantangan teknologi pertanian

Sejalan dengan hal tersebut, tuntutan masalah yang semakin kuat terhadap agroindustri  bagi lulusan teknologi pertanian  adalah   isu untuk tidak merusak lingkungan. Sebagai contoh adalah proses pembukaan lahan baru dengan tidak merusaka habibat yang ada sebelumny, seperti dengan pembakaran hutan untuk ditanami sawit misalnya, yang terjadi pertengahan 2009 lalu di Riau dan Kalimantan.

Kebijakan pemerintah yang kini tengah berhemat secara konsisten dengan memangkas subsidi untuk energy (BBM dan listrik)  menuntut industry pertanian untuk mampu melakukan perubahan dan alokasi sumberdaya untuk melakukan alih teknologi yang sejalan dengan trend tersebut.

Selanjutnya agar bisnis industry pertanian dapat bertahan, maka perubahan teknologi secara fisik maupun manajemen merupakan suatu tuntutan yang semakin menggema. Hal ini terkait pandangan merabaknya isu keadilan juga prakiraan akan besarnya permintaan terhadap teknologi pertanian. Alih-alih, investasi terhadap teknologi pertanian masih sangat menjanjikan mengingat masih belum sepenuhnya invensi tersebut yang memenuhi permintaan dunia industry pertanian. Seperti teknologi yang di hasilkan masih parsial, kurang aplikatif, dan/atau teknologi tersebut belum teruji dalam skala yang memadai.

Hal tersebut merupakan tantangan bagi agroindustriawan maupun lulusan teknologi pertanian agar bijak memahami realita yang ada. Melihat hal tersebut, masih ada banyak peluang yang terkait dengan usaha untuk mengembangkan teknologi pertanian. Hal ini sejalan dengan visi beberapa perguruan tinggi  yang memiliki fakultas/program studi (prodi) teknologi pertanian dalam melaksanakan tri-dharma perguruan tinggi.

Sedikitnya ada lima sasaran/focus perhatian perguruan tinggi untuk meingkatkan performa dan kompetensi lulusan teknologi pertanian yang prospektif di masa depan, dalam memahami visi Indonesia 2030 diantaranya: (1) teknologi pembenihan, rendahnya produktivitas industry pertanian Indonesia berpangkal dari ketertinggalan bangsa di bidang ini (2) teknologi tata guna air (hidroteknik), beberapa tanaman potensial Indonesia, seperti  Padi, tebu, bawang, jagung masih belum mendapatkan manajemen yang baik dalam hal ini, sehingga produktivitas pertanian masih rendah dan fluktuatif (3) teknologi produk bio, tuntutan untuk mengembangkan proses produksi dan produk yang sehat, alami, dan bersahabat dengan lingkungan merupakan isu penting pada kurun 5-10 tahun mendatang (4) bidang industry hilir, masih banyak  produk Indonesia di dominasi produk primer, seperti sawit Indonesia misalnya, yang masih di ekspor dalam bantuk CPO—meskipun juara dalam hal ini, namun produk turunan yang memiliki nilai tambah (added value) tinggi masih belum banyak di usahakan  (5) teknologi informatika dan pemasaran, hal ini terkait dengan dinamika dalam persaingan global yang menginginkan akses cepat, efisiensi yang tinggi dengan tingkat risiko yang rendah.

Dengan memahami visi Indonesia 2030, dalam  sektor agroindustri yang dijanjikan akan berjaya, seperti di paparkan di atas akan semakin membuka wawasan keilmuan  yang lebih komprehensif dalam wacana global saat ini. potensi dan tantangan tersebut sangat terkait dengan kompetensi lulusan teknologi pertanian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. (aria)

Hello world!

Filed under: Uncategorized — Aria @ 8:22 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.