Berbicara tentang peluang dan tantangan bagi lulusan sarjana teknologi pertanian adalah berbicara tentang dua hal. Pertama, kemampuan individu dalam mengeksplorasi kompetensi diri sekaligus kecakapan dalam memahami bidang keahlian yang kini sedang di tekuninya. kemudian, kedua adalah bagaimana lingkungan di luar diri masing-masing individu berpengaruh. Dalam tulisan ini penulis akan banyak menyikapi tentang poin kedua.
Adalah penting bagi mahasiswa yang kini sedang menekuni core competence Teknologi pertanian untuk mampu memahami realitas yang ada. Termasuk didalamnya kebijakan pemerintah dan pasar global terhadap kondisi politik-pertanian. Istilah ini, penulis pakai dengan alasan pertanian tidak hanya urusan untuk memenuhi pangan atau kebutuhan pokok saja. Tetapi menjadi tolak ukur keberhasilan dalam melihat kinerja pembangunan suatu Negara.
Tidak dapat di pungkiri Karakteristik yang di miliki bangsa kita –yang mungkin bisa–sebagai upaya untuk menunjang visi pembangunan adalah sector industry-pertanian secara simultan dengan pengembangan sector jasa. Konsep pembangunan industry dengan visi pertumbuhan tinggi (high growth vision) dapat di rancang untuk memajukan Indonesia dengan laju pertumbuhan tertentu untuk jangka pendek dan panjang.
Visi indonesia 2030
Visi sebuah bangsa pada dasarnya di bentuk oleh imajinasi dan usaha bangsa secara tidak kenal lelah dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini jelas, visi di perlukan sebagai pedoman untuk membangun dirinya menjadi menuju masyarakat yang lebih baik. Perumusan visi pertama negeri ini telah tercapai yakni mencapai kemerdekaan yang di citakan. Dengan demikian perlu di lakukan perumusan visi jilid kedunia dengan memperhatikan kekuatan, peluang, ancaman, dan posisi negeri Indonesia saat ini.
Kita sepatutnya bersyukur ke hadirat Illahi yang telah melimpahkan kekayaan luar biasa kepada bangsa Indonesia berupa daratan yang membentang dari sabang hingga merauke dengan luas mencapai 1.900 juta hectare dan terdiri atas 17.800 pulau, lebih dari 5.700 hektare merupakan hamparan biru dengan keanekaragaman hayati terbesar didunia. Selain hal tersebut sekitar 70% penduduk Indonesia bergerak dalam usaha pertanian. Kondisi ini menjadi alasan kuat untuk memacu industri berbasis pertanian (agroindustri). Selayaknya potensi tersebut menjadi modal dasar untuk di kembangkan menjadi komoditas atau produk berdaya saing di perdagangan global.
Visi Indonesia 2030 dalam Hartoto Sastrosoenarto (2006) adalah upaya pencapaian sinergi dalam menunjang segitiga pembangunan yakni visi pertanian, jasa, dan indusrtri. Untuk mendukung visi tersebut perlu di lakukan rumusan langkah-langkah strategis diantaranya : (1) mengembangkan kemampuan SDM (2) menguasai dan mengembangkan teknologi untuk menunjang tiga sector utama tersebut (3) mengembangkan sector pertanian dalam arti luas, mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, sector kehutanan, kelautan termasuk upaya swasembada pangan (4) melaksanakan industrialisasi yang berdaya saing kuat dan (5) pengembangan sector jasa dalam arti luas.
Langkah utama sebagai penunjang untuk meraih visi tersebut. Lebih lanjut hartoto menegaskan untuk menciptakan media tumbuh yang nayaman bagi perkembangan industry, yaitu iklim yang kondusif. Dalam jangka panjang adalah meminimalisasi kesenjangan baik antar wilayah maupun antar golongan masyarakat. Kebijakan energy turut pula mempengaruhi arah industrialisasi, baik cara mendapatknnya maupun menggunakannya, isu lingkungan menjadi hal penting terkait kebijakan tersebut. Pengembangan sub sector pertanian dan industri akan mendominasi.
Tulisan yang menarik dari Prof. Mudrajad Kuncoro (2006), guru besar FE-UGM. Masih dalam konteks visi Indonesia 2030. Terdapat sedikitnya Empat masalah dasar yang harus dipecahkan dalam jangka pendek dan menengah: (1) relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi pascakrisis (rata-rata hanya 4,5% per tahun), (2) masih tingginya pengangguran (9–10%), (3) tingginya tingkat kemiskinan (16–17%) di Indonesia, dan (4) rendahnya daya saing industri Indonesia
Kedua,Visi Indonesia 2030, yang merupakan sumbang pikir Yayasan Indonesia Forum, yang memimpikan Indonesia menjadi ”Negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan alam”.Visi Indonesia 2030 tersebut ditopang empat pencapaian utama, yaitu pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, mendorong Indonesia masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita sebesar USD18.000/tahun, perwujudan kualitas hidup modern yang merata serta mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune 500 Companies. Ketiga, Visi KADIN, yang didukung riset sejumlah ekonom dan masukan berbagai asosiasi bisnis ini, memformulasikan visi 2030 Indonesia sebagai: ”Negara Industri Maju dan Bangsa Niaga Tangguh”.
Ketiga visi yang di paparkan di atas merupakan satu bagian dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, yang sesuai dengan visi pembangunan Nasional 2005-2025. Dalam visi itu pun di sebutkan terdapat sedikitnya delapan misi pembangunan. Salah satu hal yang mendasar adalah konteks pembangunan sektor industry. Merujuk dalam visi tersebut kata kunci (keyword) yang di ambil adalah pembangunan sector pertanian dalam konteks industrialisasi adalah hal yang relevan, sebagai misi untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing global.
Pertanian berkebudayaan Industri
Pertanian berkebudayaan industri adalah suatu system terpadu industri biologis yang merupakan hasil karya, cipta, dan rasa manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya biologi beserta ekosistemnya; berorientasi pada efisiensi, produktivitas, kualitas serta nilai tambah secara berkelanjtuan dan berwawasan lingkungan; melalui penerapan iptek dan manajemen agribisnis secara terpadu dan dikerjakan oleh pelaku pertanian profesional yang memiliki azas kerja industri dan karakteristik social budaya bangsa ber-Pancasila; ditujukan bagi seluruh bangsa Indonesia yang berprinsip pada keadilan dan kesejahteraan. Demikian salah satu prinsip dari paradigma pertanian baru untuk mengantisipasi era globalisasi dan perdagangan bebas.
Industry pertanian atau lebih lanjut agroindustri merupakan bagian dari core competence seorang lulusan Teknologi Pertanian. Agro industry sebagai penarik pembangunan di sector pertanian diharapkan mampu menciptakan pasar melalui berbagai produk olahannya. Peranan agroindustri itu sendiri bagi bangsa menurut Sumatupang (1990) untuk membenahi masalah pertanian antara lain: (1) menciptakan nilai tambah pertanian (2) menciptakan lapangan pekerjaan (3) meningkatkan penerimaan devisa (4) memperbaiki pendapatan, dan (5) menarik sector pertanian.
Namun kendala yang seringkali mengahantui pengusaha yang bergerak di bidang pertanian adalah sebagian besar teknologi pertanian yang ada belum mampu menunjang industry terutama yang berskala kecil. Selain dari karakteristik sebagian besar produk pertanian yang mudah rusak dan bulky, bersifat musiman—dipengaruhi iklim, serta masih rendahnya mutu produk pertanian industry yang masih rendah dalam persaingan pasar di dalam maupun luar negeri.
Peluang dan tantangan teknologi pertanian
Sejalan dengan hal tersebut, tuntutan masalah yang semakin kuat terhadap agroindustri bagi lulusan teknologi pertanian adalah isu untuk tidak merusak lingkungan. Sebagai contoh adalah proses pembukaan lahan baru dengan tidak merusaka habibat yang ada sebelumny, seperti dengan pembakaran hutan untuk ditanami sawit misalnya, yang terjadi pertengahan 2009 lalu di Riau dan Kalimantan.
Kebijakan pemerintah yang kini tengah berhemat secara konsisten dengan memangkas subsidi untuk energy (BBM dan listrik) menuntut industry pertanian untuk mampu melakukan perubahan dan alokasi sumberdaya untuk melakukan alih teknologi yang sejalan dengan trend tersebut.
Selanjutnya agar bisnis industry pertanian dapat bertahan, maka perubahan teknologi secara fisik maupun manajemen merupakan suatu tuntutan yang semakin menggema. Hal ini terkait pandangan merabaknya isu keadilan juga prakiraan akan besarnya permintaan terhadap teknologi pertanian. Alih-alih, investasi terhadap teknologi pertanian masih sangat menjanjikan mengingat masih belum sepenuhnya invensi tersebut yang memenuhi permintaan dunia industry pertanian. Seperti teknologi yang di hasilkan masih parsial, kurang aplikatif, dan/atau teknologi tersebut belum teruji dalam skala yang memadai.
Hal tersebut merupakan tantangan bagi agroindustriawan maupun lulusan teknologi pertanian agar bijak memahami realita yang ada. Melihat hal tersebut, masih ada banyak peluang yang terkait dengan usaha untuk mengembangkan teknologi pertanian. Hal ini sejalan dengan visi beberapa perguruan tinggi yang memiliki fakultas/program studi (prodi) teknologi pertanian dalam melaksanakan tri-dharma perguruan tinggi.
Sedikitnya ada lima sasaran/focus perhatian perguruan tinggi untuk meingkatkan performa dan kompetensi lulusan teknologi pertanian yang prospektif di masa depan, dalam memahami visi Indonesia 2030 diantaranya: (1) teknologi pembenihan, rendahnya produktivitas industry pertanian Indonesia berpangkal dari ketertinggalan bangsa di bidang ini (2) teknologi tata guna air (hidroteknik), beberapa tanaman potensial Indonesia, seperti Padi, tebu, bawang, jagung masih belum mendapatkan manajemen yang baik dalam hal ini, sehingga produktivitas pertanian masih rendah dan fluktuatif (3) teknologi produk bio, tuntutan untuk mengembangkan proses produksi dan produk yang sehat, alami, dan bersahabat dengan lingkungan merupakan isu penting pada kurun 5-10 tahun mendatang (4) bidang industry hilir, masih banyak produk Indonesia di dominasi produk primer, seperti sawit Indonesia misalnya, yang masih di ekspor dalam bantuk CPO—meskipun juara dalam hal ini, namun produk turunan yang memiliki nilai tambah (added value) tinggi masih belum banyak di usahakan (5) teknologi informatika dan pemasaran, hal ini terkait dengan dinamika dalam persaingan global yang menginginkan akses cepat, efisiensi yang tinggi dengan tingkat risiko yang rendah.
Dengan memahami visi Indonesia 2030, dalam sektor agroindustri yang dijanjikan akan berjaya, seperti di paparkan di atas akan semakin membuka wawasan keilmuan yang lebih komprehensif dalam wacana global saat ini. potensi dan tantangan tersebut sangat terkait dengan kompetensi lulusan teknologi pertanian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. (aria)